Kedah Darul Aman, Acehnya Malaysia

Bulan Maret yang lalu saya bersama ibunda berkunjung ke negeri jiran Malaysia, tepatnya ke Pulau Penang dan Kedah Darul Aman. Penerbangan yang melayani rute Banda Aceh - Penang cuma ada satu maskapai yaitu Firefly. Lama perjalanan dari Bandara Sultan Iskandar Muda - Penang International Air Port sekitar 1,5 jam.
Setelah mendarat di Penang International Air Port dan sempat lama ketika cap paspor di bagian imigrasinya. Saya sempat ditanya beberapa pertanyaan (mungkin karena saya baru pertama kali ke Malaysia). Mulai dari tujuan pergi ke Penang, dengan siapa, berapa lama, sampai harus menunjukkan tiket kepulangan dari Penang - Banda Aceh.

Setelah melewati proses di imigrasi, kami langsung menuju ke tempat menunggu taxi. Disana telah menunggu teman sekaligus dosen saya di Teknik Sipil Unsyiah, Bang Chaizal yang sedang mengambil S2 di USM. Setelah berbincang-bincang dengan beliau, akhirnya kami langsung naik Taxi menuju ke penginapan Mewah Court. Untuk sekedar tahu saja bagi yang berpergian ke Penang, bahwasanya harga menginap di Mewah Court ini semalam 40 ringgit. Kebetulan kami hanya semalam di Penang, dan keesokan harinya langsung menuju ke Kedah.

Untuk menuju ke Negara Bagian Kedah, ada 2 alternatif transportasi yang dapat kita pilih, yaitu transportasi darat melalui jembatan Penang yang panjangnya 13,5 Km. Jembatan ini menghubungkan antara Pulau Penang dengan Bayan Lepas. Alternatif kedua yaitu menggunakan transportasi laut. Transportasi ini menghubungkan Butterworth dan George Town. Pengguna kedua alternatif ini hanya perlu membayar tarif ketika menuju ke Pulau Penang saja, dan tidak perlu membayar ketika meninggal Pulau Penang. Tarifnya adalah 5,6 Ringgit.

Sesampainya diseberang, kami langsung menuju ke terminal bis dengan menggunakan jasa taxi yang bersedia mengantar kami dari Pulau Penang. Untuk menuju Kedah, bis yang kita naiki adalah bis yang menuju ke Sungai Petani. Perjalanannya kira-k
ira 1 jam lebih dengan tarif 1,5 Ringgit.

Setelah sampai di Terminal Bis di Kota Sungai Petani, kami dijemput oleh saudara kami dan kemudian langsung menuju ke Pusat Pengobatan Sendi dan Tulang. Tempat tersebut merupakan tempat pengobatan yang banyak didatangi oleh pasien-pasien dari Aceh, termasuk juga ibunda saya yang awalnya direkomendasikan untuk berobat di tempat tersebut oleh saudara dari Lhokseumawe. Selesai dari situ, kami langsung pulang ke rumah Keponakan Ayah (Alm.), yaitu di daerah Merbok.

Selama disana, saya berpikir bahwa hidup di Merbok ini hampir sa
ma dengan hidup di Aceh. Dari segi masyarakatnya banyak kesamaan dengan kita di Aceh. Pernah saya pergi kenduri disana, saya menemukan banyak kesamaan dalam hal gaya para tamunya, penyajian makanannya, cara komunikasi ketika sedang makan dan yang persis sama adalah siap makan langsung merokok.

Kesamaan lainnya adalah, disana juga ada khalwat. Kalau di Aceh masalah Khalwat ini ditangani oleh Wilayatul Hisbah (WH) atau Polisi Syariat, sedangkan disana juga ada Polisi khusus yang menangani para pelaku mesum dan khalwat. Cuma saya tidak tahu persis namanya. Yang jelas pada suatu malam ketika saya dan saudara saya pergi keluar, di salah satu rumah di komplek perumahan dekat kami tinggal telah ramai orang-orang berkerumun memergoki pelaku khalwat oleh orang kampung. Ternyata yang punya rumah yaitu perempuan membawa masuk laki-laki ke dalam rumahnya. Akhirnya merekapun digiring ke Kantor Pol
isi oleh Petugas. Benar-benar cerita yang memiliki kesamaan dengan Aceh. hehe..lanjut gan..!

Yang tidak habis saya pikir adalah disana sangat jarang dan susah kita jumpai Masjid atau Meunasah (Mushalla) seperti di tempat kita. Kalau di Aceh atau daerah lain di Indonesia antara satu dusun dengan dusun yang lain dalam satu desa pasti ada Meunasah (Mushalla). Nah, disana sangat sulit kita jumpai Meunasah (Mushalla). Awalnya heran juga kenapa saya tak pernah mendengar suara azan ketika waktu shalat tiba. Yang saya tahu disana sepertinya yang ada cuma Masjid saja, jadi untuk mendapati Masjid tidak heran kalau harus menempuh jarak yang lumayan jauh. Ini saya buktikan ketika pergi shalat Jum'at. Awalnya saya pikir hal ini cuma di kampung saja, tapi ketika saya pergi ke kotanya, hal serupa juga
tak jauh beda dengan apa yang saya temui di kampung tempat tinggal saudara saya tersebut. Disitu yang berbeda dengan kehidupan di Aceh atau daerah-daerah lain di Indonesia dengan Kedah.

Hampir sama dengan orang Aceh, orang Kedah Darul Aman juga memiliki sawah-sawah dan menanam padi. Saudara saya pernah mengatakan bahwa Kedah merupakan "lumbung padi" malaysia. Makanya Kedah juga disebut dengan sebutan "The Rice Bowl of Malaysia". Sebagai penghasil beras terbesar di Malaysia, tidak heran kalau di beberapa tempat disana banyak kita jumpai kilang-kilang padi berukuran besar. Kalau di Aceh kilang-kilang padinya tidak terlalu besar seperti yang pernah saya lihat ketika saya berada di Kedah. Ada beberapa kilang padi yang sempat saya kunjungi dan melihatnya ke dalam secara jelas.
Kilang padi disana banyak menggunakan mesin yang besar-besar, dan proses di dalamnya juga menggunakan beberapa alat berat.

Begitulah kira-kira apa yang saya lihat Kedah Darul Aman, Malaysia. Sangat berbeda dengan Pulau Penang yang begitu maju dalam segala hal. Kalau di Penang ini banyak para pendatang, dan kehidupan disana mayoritasnya pun orang China. Tidak banyak orang Melayu di Pulau Penang. Selain itu juga banyak India. Kedah memang lebih cocok disandingkan dengan Aceh. Di Kedah juga ada Kampung Aceh, dan di Aceh juga ada Kampung Kedah. Keduanya memiliki sejarah masing-masing.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis tentang Kedah yang banyak memiliki kesamaan dengan Aceh. Tapi apa mau dikata tangan sudah mau lagi berlama-lama dengan keyboard pc ini.

Berikut saya lampirkan beberapa foto ketika berpergian ke Penang dan Kedah, Malaysia.




Penang International Air Port

Suasana di dalam Pesawat Firefly

Penang

Penang

Ruang Tunggu Penumpang Penang International Air Port


Pertokoan di Merbok

Rumah Kak Ros di Merbok, ikeu rumoh bak karet mandum,
Awee Geutah nya Malaya.

Jembatan Pulau Pinang (13,5 Km)

Feri yang menghubungkan Pulau dan Daratan

Pelabuhan di George Town, Penang


Jalan di Sekitar Merbok

Salah satu Kilang Beras di Kedah

Salah satu Alat Berat yang digunakan dalam Kilang

Mesin Penggilingan Padi

Seorang Pekerja dengan alat beratnya sedang menyapu
padi yang ada di dalam Truk (di Malaysia sering disebut Lorry)

Sebuah lorry yang baru masuk hendak menurunkan padi di dalam kilang

Seorang pekerja dengan alat beratnya sedang menumpuk padi dari truk (lorry)


Sebuah alat berat sedang mengangkut padi ke mesin penggilingan

Tumpukan Benih Padi di salah satu Kilang

Sebuah alat berat sedang menaikkan benih padi ke dalam truk

Tumpukan Padi yang dibawa beberapa truk ke Kilang yang belum digiling

Rambu-rambu versi Malaya

Tempat Perlancongan (wisata)

Komplek Pertokoan di Kedah


Highway

Rambu-rambu penunjuk arah jalan

Jalan menuju ke Damai Park Resort

Damai Park Resort

Highway menuju ke Jembatan Penang

Highway menuju ke Jembatan Penang

Jembatan Penang

Jembatan Penang

Penang

{ 1 comments... Views All / Post Comment! }

admin said...

sungguh rapi tata kota dan bersih, seandia aceh begitu [mimpi.com]